Era 'Green Steel' Dimulai: Bagaimana Teknologi Hijau Mengubah Peta Persaingan Baja di 2026?
Awal 2026 adalah tahun di mana industri baja mulai meninggalkan "masa lalu yang berpolusi" menuju era industri yang lebih cerdas, hijau, dan dipagari oleh regulasi ketat.
mesliii_drs
1/14/20262 min read
Industri besi baja di awal 2026 bukan lagi sekadar tentang adu volume produksi, melainkan adu efisiensi dan jejak karbon. Kita sedang menyaksikan pergeseran besar di mana baja tidak hanya harus kuat secara fisik, tapi juga harus "bersih" secara lingkungan agar bisa menembus pasar internasional.
1. Tren Pasar dan Harga Global
Secara global, pasar baja di awal 2026 cenderung menunjukkan sikap hati-hati. Beberapa poin penting yang mencolok adalah:
Kebijakan Ekspor Tiongkok: Per 1 Januari 2026, Tiongkok mulai menerapkan sistem perizinan ekspor tahunan untuk produk baja. Kebijakan ini bertujuan mengendalikan volume ekspor berharga murah, yang diharapkan dapat menahan penurunan harga baja global lebih lanjut.
Proyeksi Harga Bijih Besi: Analis memperkirakan harga bijih besi berada di kisaran $96 - $112 per ton. Penurunan dari level sebelumnya dipengaruhi oleh perlambatan sektor properti di Tiongkok, meskipun permintaan dari sektor manufaktur lain mulai pulih.
Uni Eropa dan CBAM: Implementasi penuh Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM) pada 2026 mulai memberikan tekanan biaya bagi eksportir baja ke Eropa, mendorong kenaikan harga pada produk yang memiliki jejak karbon tinggi.
2. Kondisi Industri Baja Nasional (Indonesia)
Di dalam negeri, awal 2026 menjadi tahun yang penuh tantangan sekaligus peluang bagi produsen seperti Krakatau Steel dan anggota IISIA lainnya:
Tekanan Impor: Impor baja diprediksi masih menguasai sekitar 55% pasar domestik. Hal ini menyebabkan tingkat utilisasi pabrik lokal tertahan di angka 50%–52%, jauh dari angka ideal (80%).
Sentimen Proyek Strategis Nasional (PSN): Harapan besar tertumpu pada kelanjutan proyek infrastruktur pemerintah dan pembangunan IKN yang menjadi penyerap utama baja karbon domestik.
Keterlambatan RKAB: Sektor hulu sempat mengalami kendala akibat keterlambatan persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026, yang memicu beberapa smelter untuk mempertimbangkan impor bijih guna menjaga keberlangsungan operasional.
3. Kebangkitan "Green Steel" (Baja Hijau)
Tahun 2026 dipandang sebagai titik balik teknologi produksi baja yang lebih ramah lingkungan:
Teknologi EAF & Hidrogen: Produsen mulai beralih dari tanur tiup (Blast Furnace) ke Electric Arc Furnace (EAF) yang menggunakan energi terbarukan atau teknologi Direct Reduced Iron (DRI) berbasis hidrogen.
Komitmen Emiten Lokal: Beberapa perusahaan baja nasional telah meluncurkan lini produk rendah karbon untuk memenuhi spesifikasi proyek internasional dan industri otomotif yang semakin menuntut standar keberlanjutan.
4. Rekomendasi untuk Pelaku Industri
Bagi kontraktor dan pengembang, awal tahun 2026 adalah waktu untuk:
Mengunci Harga: Mengingat potensi kenaikan moderat (3%–7%) di kuartal pertama akibat faktor musiman dan lelang proyek baru APBN.
Diversifikasi Suplai: Mempertimbangkan produk lokal yang memiliki sertifikasi hijau untuk mengantisipasi regulasi karbon di masa depan.
Monitoring Kurs: Tetap waspada terhadap volatilitas Rupiah yang sangat memengaruhi harga bahan baku baja yang masih diimpor.