Gempa Industri Baja 2026: China Resmi Berlakukan Lisensi Ekspor, Apa Dampaknya Bagi RI?

Bagi pelaku industri di Indonesia, tren ini adalah pedang bermata dua. Di satu sisi, pengetatan ekspor dari China bisa membantu menstabilkan harga baja domestik. Di sisi lain, standarisasi kualitas dari China berarti produk mereka akan semakin kompetitif di pasar global.

Mesliii_drs

2/4/20261 min read

Industri besi dan baja China sedang memasuki babak baru yang sangat menentukan di tahun 2026. Sebagai produsen baja terbesar di dunia, setiap pergeseran kebijakan di Beijing mengirimkan gelombang kejut ke pasar global, termasuk Indonesia.

Berikut adalah rangkuman tren utama produksi besi baja China tahun 2026 untuk blog Anda:

1. Era "Lisensi Ekspor" (Mulai 1 Januari 2026)

Ini adalah berita terbesar tahun ini. Setelah absen selama 16 tahun, Pemerintah China resmi memberlakukan kembali Sistem Lisensi Ekspor untuk sekitar 300 jenis produk baja.

  • Tujuannya: Bukan untuk membatasi volume secara ekstrem, melainkan untuk meningkatkan kontrol administratif dan menstandarisasi kualitas.

  • Dampaknya: China ingin menepis citra sebagai pemasok "baja murah berkualitas rendah" dan mengurangi friksi dagang dengan negara lain (seperti Uni Eropa dan Asia Tenggara) yang mulai memperketat aturan anti-dumping.

2. Pengendalian Output & Larangan Kapasitas Baru

Memasuki Rencana Lima Tahun ke-15 (2026–2030), Beijing telah menetapkan garis keras: Zero Growth untuk kapasitas baru.

  • Kebijakan: Larangan total penambahan kapasitas produksi baja baru yang bersifat ilegal.

  • Target: Menghilangkan kelebihan pasokan (overcapacity) yang selama ini membuat harga baja global tertekan. Produksi diprediksi akan turun moderat (sekitar 1-1.1%) untuk menjaga keseimbangan pasar.

3. Fokus pada "Baja Hijau" (Green Steel)

Tahun 2026 menjadi tonggak penting dalam ambisi net-zero China. Industri baja kini resmi masuk ke dalam skema perdagangan emisi karbon nasional (Carbon Emission Trading Scheme/ETS).

  • Transformasi: Pabrik-pabrik besar mulai beralih dari tanur tiup (blast furnace) berbahan bakar batu bara ke tanur busur listrik (Electric Arc Furnace/EAF) yang lebih ramah lingkungan.

  • Investasi: Penggunaan AI untuk optimasi bahan baku dan integrasi energi terbarukan (seperti fotovoltaik) dalam proses manufaktur menjadi standar baru bagi pemain besar seperti Baosteel.

4. Dampak Properti dan Peralihan ke Manufaktur Canggih

Sektor properti China yang masih lesu memaksa produsen baja mengubah target pasar mereka:

  • Dari Konstruksi ke Otomotif: Permintaan untuk baja konstruksi (rebar) cenderung menurun. Sebaliknya, permintaan untuk baja khusus bernilai tinggi untuk kendaraan listrik (EV) dan infrastruktur energi terbarukan justru meningkat.

  • Ekspor Tidak Langsung: Meskipun ekspor baja mentah diawasi ketat, China diprediksi akan meningkatkan "ekspor tidak langsung" melalui produk manufaktur jadi (seperti mesin dan kendaraan) yang tumbuh pesat.